Kekuatan Kampanye Digital Ada di Konten
Kampanye menggunakan media digital, baik lewat sosial media atau lainnya, telah dilakukan banyak pihak di Indonesia. Mulai dari Presiden Jokowi di masa kampanye 2014 hingga sosok kartun yang nekat jadi capres.
Sebagian mungkin mengira, kekuatan kampanye digital bisa didapatkan dari jumlah follower atau fans yang besar dari akun media sosial, seperti Twitter atau Facebook.
Ternyata kekuatan terbesar dari kampanye digital bukan di jumlah. Hal ini bisa disimpulkan dari kegiatan Kumpul Kreavi yang diadakan di Universitas Bina Nusantara, Sabtu (10/1/2015).
Kegiatan yang digelar situs Kreavi.com itu memang kegiatan rutin bagi pelaku industri kreatif, terutama para kreator muda. Kali ini kegiatan itu menghadirkan Jotan (Josephine Tanuwidjaya), Faza Meonk (Faza Ibnu Ubaydillah Salman), Nanda Ivens, dan Ramya Prajna.
Jotan adalah salah satu ilustrator di balik kampanye Jokomik (Jajaran Orang Kreatif Optimis Memajukan Industi Komik). Kampanye ini mendukung pencalonan Joko Widodo melalui kampanye positif berbentuk komik di sosial media.
Faza adalah kreator dari tokoh Si Juki yang terkenal lewat berbagai aksinya dalam komik. Si Juki meramaikan 2014 lewat kampanye #beranibeda, yang mengedepankan tokoh kartun Juki sebagai Capres 2014, Nomor Urut 1,5.
Sedangkan dua pembicara lagi adalah praktisi digital marketing ternama dari Indonesia. Nanda Ivens adalah CEO XM Asia Pacific, sedangkan Ramya Prajna adalah co-CEO Think.Web.
Ramya mengatakan, saat menjalankan sebuah kampanye digital, hal penting adalah "mengerjakan PR". Maksudnya, pelaku harus tahu dulu hal-hal saperti siapa sasaran kampanye mereka dan apa yang hendak dicapai.
Hal senada diungkap Nanda Ivens. "Konten adalah hal yang membuat digital marketing terjadi. Jadi pertama, harus ada content strategy-nya dulu," ujarnya.
Strategi itu, lanjutnya, kemudian diikuti dengan tahapan lain seperti pembuatan konten, eksekusi, evaluasi dan iterasi, kembali lagi ke tahap awal.
Ini berarti sebuah strategi bisa berubah di tengah jalan. Seperti yang dialami Jotan saat terlibat dalam Jokomik.
Jotan mengungkapkan, kampanye Jokomik juga awalnya memiliki rencana yang sangat tertata. Berbagai komik siap dikeluarkan secara reguler, sesuai jadwal. Kesemuanya menampilkan aspirasi yang sesuai dengan yang diemban Jokowi.
Namun begitu masa kampanye dimulai, semua jadwal yag sudah tersusun rapih itu berantakan akibat banyakanya aksi black campaign di internet.
Akhirnya, ia mengisahkan, mereka terpaksa bekerja keras dengan jadwal yang berantakan. Banyak yang mereka lakukan adalah memantau isu yang ada, lalu mengolahnya menjadi komik.
Lucunya, konten yang dihasilkan dari kampanye Jokomik tak hanya disebar ke media sosial, tetapi juga digunakan relawan dalam bentuk lembaran kertas untuk dibagikan.
Faza pun bercerita bagaimana Si Juki dengan slogan #beranibeda sudah 'mengumumkan' niatnya untuk maju sebagai capres sejak lama. Rencana untuk menghadirkan "Capres Alternatif" itu pun diakuinya sudah ada sebelum masa kampanye.
Memasuki masa kampanye, Faza mengakui ia berhasil menunggangi momentum dan mendongkrak popularitas Si Juki. Bahkan pencalonan Juki pun sempat menjadi bahan berita ringan berbagai media massa.
Di ujung dari kampanye itu, Si Juki dan slogan #beranibeda muncul dalam berbagai bentuk: mulai dari buku, kaos hingga pernak-pernik lain yang tersedia untuk dibeli.
Nanda mengatakan, contoh-contoh kampanye yang dilakukan Jokomik dan Si Juki menunjukkan kekuatan konten dalam kampanye digital.
Ia pun memberi peringatan, kampanye digital sebaiknya jangan terfokus hanya pada jumlah follower, Like atau apapun itu.
"Jujur saja, kalau ada yang datang ke saya dan meminta kampanye digital dengan target hanya meningkatkan jumlah follower, tanpa ada apa-apa lagi, saya akan minta dia pergi saja. Hal itu hanya membuang waktu saja," ujarnya.
Pada akhirnya, semua pembicara mengakui bahwa konten memang penting, namun yang paling penting dari konten adalah membuat konten yang relevan yang bisa menjadi bahan percakapan.
Sumber

0 comments: